Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC. (Sumber Foto: hidupkatolik.com).
MARAUKE,JAGAPAPUA.COM-Rencana pemerintah untuk pemekaran wilayah provinsi baru di “Papua Selatan” disambut gembira oleh para tokoh rohaniwan dan masyarakat setempat. Dukungan hangat dan penuh kegembiraan itu salah satunya datang dari Uskup Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC. Dirinya mengungkapkan beberapa isu sosial berkaitan dengan masyarakat Papua Selatan.
Pernyataan itu disampaikan di hadapan ribuan umat dan para pejabat setempat saat menggelar Open House Natal dan Tahun Baru di Wisma Keuskupan Agung Merauke, pada Rabu (1/1/2020) yang lalu.
Dalam refleksi singkatnya Mgr. Petrus Canisius Mandagi MSC menyebut enam (6) isu menjadi catatan bagi masyarakat dan pemerintah di wilayah setempat. Enam isu itu di antaranya soal Dinamika Masyarakat Papua Selatan, Papua Juga Butuh Berubah, Isu Pemilihan Bupati, Provinsi Papua Selatan, Pemerintah yang Bersih, dan Lingkungan Hidup.
Tentang Dinamika Masyarakat Papua Selatan
Dalam refleksi nya, Uskup kelahiran Kamangta,Tombulu, Minahasa, Sulawesi Utara, 27 April 1949 itu mengatakan, bahwa Natal tahun 2019 sangat berarti bagi masyarakat Papua Selatan. Mengapa? Natal, “pesta kelahiran Yesus sebagai anak kecil di kandang Betlehem,†menegakkan sikap masyarakat Papua Selatan. Kelembutan yang ditunjukkan oleh kelahiran Yesus menjadi sikap masyarakat Papua Selatan dalam menghadapi kekerasan yang sering terjadi di Papua.
“Belum lama ini, pantas masyarakat Papua menjadi marah ketika martabat mereka dilecehkan oleh beberapa orang di Surabaya. Orang Papua sebagai manusia, citra Allah, bukanlah binatang,” tegas nya mengingatkan.
“Menghadapi pelecehan ini, memang orang Papua marah, namun hal yang luar biasa ialah orang Papua Selatan memilih tak membalas dendam, tidak melakukan kekerasan dengan pembakaran gedung atau sarana-sarana umum. Orang Papua Selatan hanya melaksanakan demo damai, yang mereka tuntut adalah penegakan hukum bagi oknum yang bersalah,” beber Mgr. Mandagi yang sejak 1994 ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Amboina ini.
“Orang Papua Selatan telah meresapi dalam hati arti Natal: “kasih mengalahkan kebencian, kelembutan mengalahkan kekerasan, pengampunan mengalahkan balas dendam, penegakan hukum mengalahkan peradilan jalanan,” ujar alumni Seminari Tinggi Pineleng, Manado yang menerima sakramen Imamat pentahbisan uskup pada 10 Juni 1994 ini. (Dese/hidupkatolik.com).
Share This Article