pasang iklan

Kepala Suku Asli Papua Bentuk Wadah Organisasi AMAP

MANOKWARI, JAGAPAPUA.COM - Badan Pengurus Aliansi Masyarakat Adat Papua (AMAP) Provinsi Papua Barat telah terbentuk. Untuk diketahui bahwa badan AMAP Provinsi Papua Barat ini diawali atas pertemuan belasan kepala suku sebagai mentor untuk mendirikan badan organisasi kepala suku asli Papua.

Kepala suku itu terdiri dari kumpulan kepala suku asli Papua yang berada di wilayah adat Provinsi Papua Barat. Setelah adanya pertemuan kepala suku yang berlangsung di Tanjung Kawal Nusmappi atau pulau Lemon, kabupaten Manokwari, Papua Barat, Minggu, 7 Juni 2020, disepakati membentuk badan pengurus.

Badan pengurus AMAP Provinsi Papua Barat terpilih, yakni kepala suku Biak Bar Mnukwar Petrus Makbon, SH (ketua AMAP), wakil ketua Yan Anthon Yoteni, wakil ketua II Keliopas Meidodga, wakil III Marthen Nauw.

Sementara, yang menduduki Sekertaris adalah Elimelech Wajoy, wakil Sekertaris Markus L. Sabarofek, bendahara Henky Rumfabe, Susan Rumere serta dibantu jajaran kepala suku Papua.

Tujuan dari terbentuknya AMAP ini sebagai wadah untuk menyatukan dan mengumpulkan seluruh kepala suku asli Papua yang berada di kabupaten Manokwari Papua Barat tanpa terkecuali.

Menurut Makbon, setiap kepala suku dari masing-masing adat tetap menjaga setiap warganya dan tanpa intervensi dari badan organisasi ini.

Lebih lanjut, Makbon menyatakan, maksud dari badan AMAP ini untuk merangkul semua kepala suku dalam satu badan organisasi, sehingga dalam menghadapi masalah di daerah dari setiap suku segera mengatasi bersama.

"Setelah badan AMAP terbentuk, maka segera mengurus badan hukum agar dilegalkan oleh pemerintah daerah" kata Makbon.

Makbon pun menyampaikan bahwa badan AMAP dibentuk guna membantu pemerintah daerah, sehingga setiap masalah di daerah bisa diatasi bersama.

Sementara itu Wakil ketua AMAP, Yan Anthon Yoteni berpandangan bahwa badan pengurus tersebut juga dibentuk sebagai wadah untuk menyatukan para kepala suku sehingga saling mengenal satu sama lain.

Di samping itu secara khusus kepala suku di daerah Manokwari sebagai ibu kota Provinsi bisa bersatu, demi menjaga eksistensi orang asli Papua yang didalamnya terdiri dari kepala suku dari masing-masing adat.

Adapun agenda utama AMAP ini dalam waktu dekat adalah melihat masalah pencatutan nama Dominggus Mandacan selaku kepala suku besar Arfak yang juga adalah gubernur Papua Barat.

Tidak hanya itu, AMAP akan membahas persoalan pencemaran air sumur warga Sanggeng yang sedang didaftarkan ke pengadilan negeri Manokwari, kerusakan lingkungan di warga Maruni, pencemaran limbah sumur air minum warga rodi dekat RSUD Manokwari.

Menurut Yoteni, beberapa persoalan ini harus dibantu oleh kepala suku, sebab warga setempat sangat membutuhkan bantuan dari kepala suku.

Tidak hanya itu, kepala suku Pegunungan Tengah di Manokwari D. Wea berharap wadah ini sebagai wujud pemersatu kepala suku Papua di Papua Barat.

Dukungan MRP-PB

Di kesempatan itu, anggota majelis rakyat Papua Barat mendukung upaya pembentukan AMAP, sebab melihat dari latar belakang wadah itu sangat penting.

Demikian disampaikan anggota MRP-PB Pdt Leonard Yarolo, Lusia Hegemur, dan Aleda Yoteni saat hadir dalam pertemuan tersebut.

Yarollo berpendapat bahwa wadah kepala suku sangat jelas, sebab tanpa disadari seluruh kepala suku dapat disatukan. Bahkan kedepannya, kata Yarollo, MRP-PB akan menjadi mitra kerja para kepala suku.

"Pembentukan wadah ini akan kami laporkan kepada pimpinan MRP," ungkap Yarollo seraya menjelaskan, wadah ini mungkin pertama kalinya dibuat di tanah Papua.

Ditambahkan lagi Petrus Makbon bahwa setelah wadah ini terbentuk, maka langkah selanjutnya akan bergandeng dengan kepala suku Nusantara dalam menjaga keamanan dan membantu pemerintah daerah. (WRP)

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/3007/warga-sanggeng-didampingi-20-kuasa-hukum-gugat-pt-pertamina

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery