pasang iklan

Komunikasi Anggota KKB Tak Perlu Sandi Khusus?

JAGAPAPUA.COM - Aksi teror dan serangan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus meningkat terutama di wilayah pegunungan Papua, Provinsi Papua. Aksi KKB tidak hanya ditujukan kepada TNI yang bertugas di wilayah tersebut melainkan juga kepada para warga sipil terutama di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Puncak Papua.

Menurut Irjen Paulus Waterpauw yang ditunjuk menjadi Kepala Badan Intelijen dan Keamanan (Kabaintelkam) pada Kamis (18/2), TNI/Polri menghadapi beberapa kesulitan untuk menghadapi para anggota KKB. Irjen Paulus mengatakan bahwa TNI/Polri sulit mendeteksi keberadaan para anggota KKB. Hal ini dikarenakan mereka hidup berbaur dengan masyarakat lokal di beberapa wilayah tersebut.

Selain itu, komunikasi antar anggota KKB juga dapat menggunakan bahasa ibu yang sulit dipahami oleh anggota TNI/Polri. Hal tersebut menurut Irjen Paulus membuat KKB tidak perlu sandi khusus untuk berkomunikasi dengan sesama anggota. Sementara itu, warga lokal meskipun memahami bahasa yang digunakan, mereka tidak memiliki keberanian untuk melapor karena adanya intimidasi dari para anggota KKB.

“Harus dipahami ya, di Papua itu ada hampir 250 bahasa. Mereka tak perlu sandi khusus. Masing-masing bicara saja menggunakan bahasa ibu kita pasti tidak paham," ujar Paulus Waterpauw, dikutip dari detikcom pada Minggu (14/2).

Sebelumnya, KKB telah berani menantang TNI/Polri untuk perang terbuka di wilayah tersebut. Menurut Irjen Paulus Waterpauw tantangan tersebut dikirimkan bukan tanpa perhitungan oleh KKB. Ia mengatakan bahwa secara geografis wilayah terseut berada pada dataran tinggi dengan banyak hutan dan bukit yang terjal.

Selain itu, banyak jurang yang curam yang membuat TNI/Polri sulit melakukan operasi. Sebaliknya kondisi tersebut, menurut Irjen Paulus menguntungkan bagi para anggota KKB utuk melancarkan aksinya. Irjen Paulus menambahkan, keberadaan KKB juga sempat dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk kepentingan politik. Anggota KKB diminta untuk menyerang peserta pemilihan kepala daerah atau melancarkan aksi untuk pihak-pihak yang kecewa karena tidak mendapatkan proyek.

"Indikasi-indikasi semacam itu terasa tapi butuh pembuktian di lapangan yang tidak mudah," kata Paulus Waterpauw.

Selain itu, menurut Irjen Paulus mayoritas anggota KKB adalah pengangguran. Mereka juga merekrut anak muda yang berstatus pengangguran untuk bergabung dalam aksinya. Mereka mengancam akan membunuh orang tua anak muda tersebut apabila mereka tidak bersedia direkrut.

"Mereka adalah free man, tak punya pekerjaan. Lalu merekrut sesama anak muda pengangguran, bila tak mau ikut orang tua mereka diancam dibunuh," kata Paulus. (UWR)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery