Jakarta, Jagapapua.com– Sejarah kerap berganti rupa, dia selalu datang membawa keajaiban yang tak disangka manusia, zaman bergerak, orangpun berubah berganti disetiap hentakan sejarah. Peradaban baru menghempas peradabaan lama. Tabu beranjak menjadi tak tabu. Begitulah sejarah mengerakan langkah kakinya disetiap meniti anak tangga peradabaan, akhirnya , berujung memunculkan sebuah kemulian.
Hal itulah yang dialami pemerontak  Fidel Castro Ketika diadili oleh rezim diktator Batista, dibalik jeruji besi Fidel Castro berujar “Kutuklah aku, tak soal. Sejarah kelak akan membebaskanku”. Dan sejarah membuktikan, Castro menjatuhkan Batista sampai sang diktator terpaksa jalan melata dan si pemberontak itu lalu berkuasa lebih setengah abad di Kuba.
Lagi-lagi sejarah menunjukan rupanya yang amat sulit dibaca manusia, kejutan demi kejutan terpapar pada peradabaan, seturut dengan tumbangnya Soekarno, ditampuk kekuasan rezim orde baru, Megawati Soekarnoputri begitu dizalimi oleh diktator Suharto.
Namun tak ada yang sangka bahwa kekuasaan rezim tiga dekade itupun tumbang oleh sebuah eskalasi politik yang tak terbendung dalam hitungan bulan sejak awal 1998. Lalu reformasi membalikkan segalanya, Megawati menjadi pemimpin RI, yang dulu dicaci lantas kemudian mengenyam pujian.
Ya sejarah penuh kejutan tak disangka. Dua belas tahun silam gambar pemimpin Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Teungku Hasan di Tiro dilarang hadir di tempat publik, tapi politik Aceh telah berubah setelah perdamaian lewat Mou Helsinki
Kini gambar “Sang Wali” itu dengan mudah ditemukan di stiker, poster, dan kaos banyak remaja Aceh yang mengenakan kaos yang bertuliskan rupanya, seperti halnya gambar kartun TinTin yang pernah digemari satu generasi lalu. “Tiroisme” menjadi kosakata baru yang menarik, meskipun bukan sebuah ajaran yang komplit merujuk persis seperti yang dipikirkan oleh Teungku Hasan di Tiro, tapi ia mungkin semacam harapan atau juga kebanggaan. Di Aceh, kini partai lokal dengan warisan gagasan “Tiroisme” memegang kendali pemerintahan, sesuatu yang dulu mustahil secara politik.
Bagaimana dengan Gerakan Papua merdeka, apakah Benny Wenda Cs akan juga menggerakkan sejarah untuk berubah?, pastinya hal yang sama akan berpotensi dikedapan hari, barangkali ini bisa menjadi rujukan bagi bangsa indonesia dalam memandang Papua.
Negara ini mesti ingat dan pupuk baik-baik dalam ingatannya, jauh sebelum itu, sejumlah pemikir politik sudah melangsungkan penelitiannya terhadap kejadian sejarah yang penuh kejutan ini. Seorang  Rousseau menyebutnya sebagai hasil gerak dari kehendak umum atau publik, Marx menyebutnya sebagai keniscayaan dari perubahan material sejarah, yang mengguncang sendi-sendi formasi kekuasaan lama.
Namun diluar itu, penulis kira juga sejarah digerakkan oleh kekecewaan dan harapan. Kekecewaan membuat orang meninggalkan yang lama dan melihat harapan lain pada sesuatu yang baru. Sejarah bisa juga diam jika tak ada unsur yang membuatnya bergairah.
Sebab Sejarah dan kekuasaan adalah dua sekawan yang mungkin ikut menentukan gerak zaman. Masih ingat Tak ada yang menduga Trump menang di Amerika Serikat, atau ISIS sempat mengambil alih sebagian Irak dan Suriah.
Selain itu sejarah juga dipandang sebagai biang, biang untuk masa depan, dan di situlah sejarah itu dianggap misteri. Kita yang hidup hari ini, berusaha keras membaca ke mana ia bergerak dalam tiga langkah ke depan.
Tentu pastinya, untuk membingkai Papua didalam NKRI dengan usia yang panjang, negara yang bernama indonesia ini, mesti mendengar jerit tagis orang Papua. (RS)
Share This Article