pasang iklan

Nduga, Air Mata Darah, Dipusaran Konflik

PAPUA, JAGAPAPUA.COM – Memerangi kelompok Papua merdeka adalah upaya Pemerintah indonesia untuk menjaga kedaulatan teritorialnya, meskipun sudah beribu orang berpenduduk Melanesia hidupnya terusir, terkatung-katung di tanah leluhurnya sendiri. Mendaki perbukitan, melintasi tebing kian terjal dan curam adalah sepenggal kisah nestapa, betapa kelam, hitam dan buramnya nasib masyarakat Nduga, karena dihujami oleh peperangan.

Sekian lama dipertontonkan oleh sejumlah kematian manusia yang tumbang tergeletak meregang nyawa ditanahnya, lantaran diterjang peluru TNI/Polri dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB), telah membuat mereka dirorong rasa ketakutan. Ketakutan itu, kemudian melibas harapan mereka bak terbuang ke hutan belantara.

Hal itulah yang dialami seorang wanita yang bernama Clara, Berkabut kelam penuh duka di tanah leluhurnya, membuat dirinya menanggung derita dan nestapa, hampir 26 tahun sudah, Clara tidak mengenyam tidur lelap dan pulas, dia selalu saja dirundung gelisah, ketika menyongsong datang waktu malam. Pastinya, keringat bercucuran basahi raut wajahnya, lantas kemudian, membanjiri dan mengundang segudang duka. Begitulah Tulis vice.com didalam pemberitaanya.

Masih tergiang dalam ingatan Clara, akhir bulan November 2108. Diawal Desember, tampak segerombolan prajurit Militer menginjakan kaki di kampung Nduga, kehadiran para serdadu tersebut tak lain untuk mencari kelompok Papua Merdeka. Seturut dengan kehadiran Militer itu, Clara Bersama keluarga tunggang langgang masuk hutan.
Ditingkahi dengan kenangan Nestapa yang sama, lantas Clara teringat kejadian pada tahun 1996 silam, ketika tentara menyeruak, menyisir kampung-kampung bersama helikopter dan bom. Oprasi tersebut dilakukan militer demi memburu rombongan OPM di komandankan Kelly Kwalik. Kelly Kwalik dituduh dan dianggap sudah melakukan penculikan terhadap tim riset Taman Nasional Lorentz.

Lagi-lagi ketakutan menjadi momok mengerikan, selalu saja melanda dan menyasar orang Melanesia hingga sekarang. Kejadian dialami dan ditimpa Clara, kemudian menyeretnya ke dalam kubangan penderitaan, adalah satu dari sekian ribu banyak Masyarakat Nduga, Seperti yang di tulis BBC Indonesia.

Tentang sesosok perempuan bernama Jubiana Kagoya itu. Gejolak peperangan antara militer Indonesia dan tentara pembebasan Papua merdeka lah yang sudah membuat Jubiana mengerang kesakitan. Bahkan sampai merebak kabar, ditengah ganasnya rimba Papua itu, Jubiana melarikan diri dibalik pepohon, dia harus mengayuh biduk perjuangan, meredam kesakitan, berupaya sekeras mungkin untuk dapat memenangkanpPertarungan demi si buah hatinya. Hingga akhirnya singkat cerita, bayi itupun lahir dengan selamat, diberi nama “Pengungsi.”

Terhempasnya Jubiana, sama seperti yang dialami Clara. Gejolak baku tembak di Distrik Mugi antara TNI/Polri dengan Tentara Pembebasan Papua Merdeka kala itu, kemudian berimbas pada penyerangan distrik Yegi dan Yel, lalu meluas hingga ke Mugi. Itulah pangkal penyebab yang membuat Jubiana dan keluarga hengkang dari tanahnya menuju belantara rimba.

Kehidupan pelit ditengah pusaran perang, lalu luput dari perhatian negara itulah yang dirasakan Rakyat Nduga. Kendati waktu itu sempat di hebokan Wentius yang akan tanggalkan jabatannya. Kekecewaan Wentius itu dipicu atas sikap pemerintahan Joko Widodo dalam menangani konflik di Nduga.

Padahal masyarakat Papua menawarkan sejumlah solusi penyelasaian, mulai dari LSM, Pemerintah Daerah, DPRD, Pansus Papua DPD RI, hingga menyita perhatian Internasional yang datang dari Commission for Human Rights, itupun tidak membuat Pemerintah Indonesia bergeming sedikitpun untuk menarik pasukan Militernya.(JP/RS)

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery