pasang iklan

Tangani Covid-19, Yan Piet Ingatkan Kearifan Lokal Papua

PAPUA, JAGAPAPUA.COM - Menyikapi perkembangan penyebaran virus corona yang telah berdampak terhadap eksistensi manusia dimuka bumi, membuat Tokoh adat Papua yang juga adalah Ketua Dewan adat Papua memberikan pemikiran kritis dalam membuka cakrawala berpikir masyarakat adat Papua dalam menghadapi Covid-19.

Pemikiran dari pendekatan adat tersebut diharapkan mampu menjadi pertimbangan anak adat Papua yang saat ini memimpin baik di daerah sebagai Gubernur, Bupati/Walikota sampai ketingkat kepala Desa/ kampung maupun anggota legislatif.

Yan Piet Yarangga mengatakan, walaupun secara teknologi para ahli dunia modern telah memberikan analisis dan teori terkait dengan virus ini, tetapi menurut Mananwir Beba Byak ini  percaya atau tidak, saat ini masyarakat tradisional atau adat adalah korban dari dunia modern itu sendiri. Menurutnya, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh komponen masyarakat adat Papua bahwa peristiwa Covid-19 ini merupakan suatu poses alam semesta untuk mengarahkan manusia kembali melakukan kehidupan dari titik nol.

Kembali ke titik nol yang dimaksud ialah bahwa alam semesta menuntut kembali perubahan yang telah diciptakan oleh manusia modern. Ketua Dewan Adat Papua ini menegaskan dalam filsafat Byak dikatakan bahwa “ Perut adalah raja, jika perut menuntut, maka pasti akan memunculkan banyak korban”.

Dari pandangan filsafat adat tersebut, mengungkapkan bahwa yang utama harus dipenuhi dalam bermasyarakat adalah kebutuhan pangan masyarakat. Karena tanpa kecukupan pangan, akan tercipta kekacauan dan memakan korban.

Ia juga menyampaikan bahwa kondisi Covid-19 mengarahkan masyarakat adat dalam segala lapisan untuk kembali mengintrospeksi diri bahwa ada resiko besar sesungguhnya didepan jika “perut sebagai raja” tak mampu dipenuhi oleh pemerintah.

Ia kembali menekankan bahwa kepercayaan adat / keyakinan lokal masyarakat adat harusnya sebagai kekuatan bagi masyarakat adat dalam menghadapi virus mematikan ini, Keyakinan lokal atau kepercayaan adat itu bisa dimaknai juga bahwa Tuhan semesta alam akan melakukan keajaiban misalnya dalam keyakinan Koreri, kepercayaan adat suku Byak bahwa ada suatu keyakinan tentang suatu perjanjian yang akan datang mampu membawa manusia pada kehidupan baru.

Pesan para leluhur ini perlu di pandang dari aspek perkembangan saat ini bahwa sebelum tahun 1885, sebelum masuknya injil di Tanah Papua, kepercayaan adat ini telah berkembang dan merupakan kerarifan lokal di Papua. Bahwa suatu keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan merupakan cara masyarakat adat terlindung dari ancaman virus yang mematikan ini.

Leluhur suku Byak telah memberikan pesan kepada generasi ke generasi sampai saat ini yang disampaikan oleh leluhur Manarmaker pada abad ke 16, bahwa beliau pergi kedunia barat meninggalkan saudaranya karena menghadapi persoalan internal. Namun, leluhur tersebut berjanji akan kembali dan membawa Koreri (kehidupan baru) dan bertemu dengan bangsanya dan saudara-saudarinya.

Oleh sebab itu Mananwir Byak ini mengingatkan kepada seluruh masyarakat adat untuk menjaga dan melindungi kearifan lokal yang semakin hilang. Peristiwa seperti saat ini telah terjadi sebelumnya, baik saat perang dunia kedua maupun sebelum Perang dunia kedua. Karena itu, agar masyarakat adat tidak menjadi korban Covid-19 maka lakukanlah perenungan terhadap pesan-pesan leluhur masing-masing suku di tanah papua. dibalik Peristiwa covid-19 khususnya di tanah Papua, dalam kenyakinan berdasarkan perjanjian para leluhur diyakini bahwa Bangsa papua akan mengalami perubahan dalam segala dimensi kehidupan, Tutup Ketua Dewan Adat Papua tersebut.

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/2755/hutan-lindung-papua-barat-direvisi-masukan-dari-masyarakat-adat

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery