pasang iklan

Ditolak Malaysia dan Thailand, Pengungsi Rohingya Tiba di Aceh

JAGAPAPUA.COM - Pada senin (7/9) hampir 300 orang pengungsi Rohingya akhirnya mendarat di Aceh setelah hampir 6 bulan berada di laut. Mereka menaiki perahu kayu dengan mayoritas penumpang adalah perempuan dan anak-anak. Kasus Rohingya telah mencapai krisis selama bertahun-tahun. Mereka melarikan diri dari penganiayaan di Myanmar ke negara-negara Asia Tenggara terutama negara dengan mayoritas penduduk muslim. Sejak tahun 2015, kedatangan Rohingya di Indonesia adalah yang paling besar.

Sebelumnya, para pengungsi ini sempat hendak mendarat di Malaysia dan Thailand, akan tetapi ditolak oleh otoritas negara dengan alasan adanya pembatasan karena virus corona. Para pengungsi itu berlayar sejak awal april lalu dari Bangladesh. Sebelumnya dilaporkan bahwa terdapat 800 kelompok Rohingya telah meninggalkan Bangladesh Selatan pada awal tahun ini. Bangladesh merupakan tempat pertama pengungsi Rohingya dimana sebanyak 1 juta orang hidup di tenda-tenda pengungsian yang kumuh dan tidak layak.

Oktina, koordinator badan pengungsi PBB mengatakan bahwa salah satu diantara kelompok pengungsi Rohingya telah dilarikan ke rumah sakit. Kondisi mereka diketahui sangat lemah saat kedatangannya. Penduduk setempat dilaporkan memberikan sumbangan makanan, miuman dan pakaian karena prihatin melihat kondisi mereka. Hal ini mereka lakukan atas dasar kemanusiaan.

Sebelumnya, pada bulan Juni 2020 lalu, sekitar 100 orang Rohingya tiba di wilayah yang sama setelah menempuh perjalanan laut selama empat bulan. Selama itu mereka mengaku dipukuli oleh oknum perdagangan manusia hingga mereka dipaksa meminum air seni mereka sendiri untuk dapat bertahan hidup. Kelompok Rohingya menerima banyak perlakuan tidak manusiawi baik ketika mereka berada di Myanmar (Burma) maupun saat melarikan diri dan menempuh perjalanan laut untuk mencari tempat pengungsian yang dapat menerima keberadaan mereka agar dapat hidup dengan aman.

Sebanyak 30 orang Rohingya dilaporkan meninggal dunia di laut. Jasad mereka dilempar keluar dari kapal. Hal tragis ini dilakukan oleh para pedagang manusia yang menjadikan para pengungsi ini sebagai mangsa utama mereka. Hal ini mereka lakukan dengan menawarkan jalan masuk ke negara-negara Asia Tenggara dengan mayoritas penduduk muslim seperti Indonesia dan Malaysia. Bahaya human trafficking atau perdagangan manusia adalah ancaman terbesar yang selalu dihadapi para pengungsi bahkan hingga kehilangan nyawa. (UWR)

Share This Article

Related Articles

Comments (3)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery