JAGAPAPUA.COM -Siapa yang tak kenal Muridan S Widjojo, peneliti LIPI ini sering membuat anak-anak Papua dan Tidore tergiang. Kepergiannya telah menyisahkan kenangan terdalam, apalagi, sejak ia merilis buku, tulisan dari disertasinya “Pemberontakan NUKU ; Persekutuan lintas budaya Maluku-Papua (1780-1810) yang diterbitkan awal tahun 2013 silam.
Tentu ini merupakan kehormatan bagi kedua anak negeri tersebut, khususnya Tidore dan Papua, sebab Muridin begitu seriusnya menggali pertautan sejarah kedua daerah itu, hingga harus membuatnya terhempas ke Inggris dan Belanda. Entah gerangan apa yang terlintas dibalik benaknya, lantas mengangkat kisah ini.
Namun dia sadar, bahwa untuk melejitkan cita-citanya mengeksplorasi sejarah Papua dan perjuangan identitas serta HAM di tanah Papua, ia harus menaklukan sejarah Tidore terlebih dahulu. Sebab sejarah Papua tentu bersatu didalamnya.
Muridan S. Widjojo peneliti senior dan Aktivis HAM untuk Papua ini mengambil gelar doktornya di Universitas Leiden Belanda, kemudian menyelesaikan disertasinya tentang Sejarah Perjuangan Nuku yang notabenenya seorang pangeran, pejuang, pemberontak dari Tidore Maluku utara.
Menurut sahabat Almarhum Muridin, Dr. Riwanto Tirtosudarmo, selama ini dia belum pernah bertanya pada Muridan kenapa Papua begitu penting artinya bagi dirinya. Sehingga nyaris habis-habisan dia mengorbankan dirinya untuk Papua. Dalam menghadapi sakit yang dideritanya “saya diam-diam berharap bahwa dia akan sembuh, Lantaran kecintaannya begitu dalam terhadap Papua.”Ucap Riwanto Sahabatnya.
Saat itupun juga saya mengantungkan pengharapan, Ketidakmenyerahan Muridan pada persoalan-persoalan akut yang menerjang orang-orang Papua, bisa berubah menjadi energi perlawanan terhadap penyakitnya, Mengenang kepergian Muridan berarti mengenang pula Papua.”terang sahabatnya kala itu.
Apalagi Papua hingga sekarang, masih jauh dari kata selesai, banyak persoalan-persoalan masih melilitnya. Penindasan, ketidakadilan, kemiskinan dan Negara yang justru menjadi musuh dari warganegaranya sendiri.
Kenapa harus Nuku?
Muridan begitu terobsesi dengan perjuangan HAM di Papua. Saking seriusnya, ia harus melalang-buana ke sejarah kerajaan lain guna mencari titik akar sejarah perjuangannya.
Masih menurut Dr. Riwanto Tirtosudarmo sahabatnya, ternyata di Belanda rupanya dia memilih untuk menulis sejarah Pangeran Nuku dari Tidore belakangan ini saya tahu memiliki keterkaitan dengan sejarah Papua”. Tulisannya adalah disertasi Doktoralnya.”Ungkap sahabat seperjuanganya.
Lanjut dia, sebab selain Sultan Tidore Al-Mansur (1512-1526) yang memiliki hubungan erat dengan pribumi Papua, Nuku adalah orang kedua yang memiliki kepercayaan pribumi menjadi pemimpin untuk menggiring mereka dari cengkraman kaum imperialis.
Masih tergiang dalam ingatan sahabatnya, Nuku bukan Pangeran kelas teri hal itu diungkapkan almarhum Muridan saat dia berkata pada saya.
“Nuku itu unik, ada hal lain yang tak dimiliki orang lain dari dirinya dikala itu, jadi tak ada alasan Belanda begitu menyegani hingga menuliskan semua tindak-tanduknya di jurnal sejarah. Ada hal menarik yang tak dimiliki ksatria lain di Nusantara dibanding dirinya (Nuku).”Tegas Almarhum pada sahabatnya.
Sambung dia, Nuku adalah sosok yang begitu kharismatik dan dihormati di masanya, bukan karena ia ahli perang tapi seorang tokoh humoris & bijak yang mampu memberikan keyakinan dan janjinya pada mereka (Sekutunya) bahwa ia adalah orang dipercaya.
Lantas sifat inilah yang tak menggetarkan hati pengikutnya dan sahabatnya untuk bersama berjuang mengejar impiannya dan impian mereka untuk Merdeka,” Katanya.
Selain itu, Nuku juga satu dari banyaknya Pemimpin (Raja) di dunia yang tak pernah terkalahkan seumur hidup, ujar dia kagum. Itulah mengapa saya begitu terkesan akan Nuku. Dan tak dapat saya pungkiri bahwa Sejarah Papua memang bersatu dalam sejarah Tidore.” Tukasnya.
Adapun itu Muridan Juga berujar pada sahabatnya,“Coba kau bayangkan, bagaimana bisa ketika Nuku Tiba di dermaga (Ternate) menemui lawannya (Belanda) para prajurit musuh hanya melihat dirinya sendiri bersama para pengawalnya. Tiba-tiba datang bunyi gemuruh kora-kora (Perahu perang) muncul dari lautan seperti sebuah gabus muncul dari dasar laut yang tak tahu darimana datangnya. saya berpikir sejenak akan hal ini, apa ini hanya mitos atau apa, tapi kesaksian arsip tua diluar sana (Inggris, Belanda) banyak menuliskan kisah ganjil tentang Nuku yang tak mungkin kutuliskan di disertasiku kecuali lewat cerita malam ini” ucap Muridan sekali lagi pada sahabatnya.
Menurut almarhum Muridan,“Nuku tak berjuang sendiri, ia didukung oleh kekuatan luar yang kuat (mistis) pastinya, didasari kemampuan Spiritual memumpuni, ia merupakan Panglima Perang di zaman ayahnya. Kemampuan sumber daya manusia pula yang ia dapati tak sekedar dari apa yang orang dapatkan” ungkap Muridan kepada sahabatnya . Selain itu,dalam bukunya “Pemberontakan Nuku” Muridan juga menuliskan bahwa dalam sejarah kuno manusia Pasifik, hal ini disebut sebagaimana atau gelar bagi orang yang terpilih atau yang terlahir dengan bakat kepemimpinan dan kecerdasan”. Bakat inilah yang menemaninya memperjuangkan apa yang ia yakini benar.
Membaca buku tersebut, kita tak akan dapat berbicara, kecuali hanya berpikir secara empiris atas perjuangannya yang terbilang lama dan melelahkan tersebut.
Mungkin Soekarno dan para sahabatnya di Budi Oetomo, membutuhkan waktu di daratan selama 17 tahun untuk memerdekakan Indonesia, namun Nuku membutuh waktu 20 tahun di lautan tuk memerdekakan Tidore hingga Papua. Sebuah harga yang tak setimpal untuk menjadikannya Pahlawan Bangsa setara sama dengan Presiden Soekarno.
Sebelum almarhum Muridan menghembuskan nafas terakhirnya, masih berbekas diingatan sahabatnya,“Terlalu banyak kisah yang belum tergali di tebalnya arsip di luar sana tentang Nuku, dan mungkin butuh waktu bertahun-tahun tuk mengkaji dan menerjemahkannya” tutup Almarhum. (Rahmat Sangadji)
Share This Article