JAGAPAPUA.COM - Setiap umat islam di dunia pasti dirundung kerinduan, apalagi dia telah memupuk niat jauh hari untuk bergegas tunaikan perjalanan haji atau umroh. Namun ketika datang Covid-19, hajatan religius itu kian mulai senyap.
Hal yang sama juga dialami umat Kristen, gereja pun berlahan-lahan ditelan kesunyian. Tapi sunyi tempat ibadah tak berarti lenyap iman dalam diri bagi penganut agama-agama.
Memang, ada hal yang hilang sejenak. Silaturahmi di pengajian, di gereja, di kelompok-kelompok agama dalam hangatnya tatap muka. Padahal baru sebulan kita dilarang keluar rumah. Wabah ini diprediksi akan merubah cara hidup masyarakat. Apalagi ditambah, Peneliti Harvard malah punya prediksi lebih menakutkan, kita masih harus social distancing sampai 2022.
Sederet Persoalan akibat Covid-19 juga datang melibas penggila bola, berbagai pertandingan dunia berhenti total demi keselamatan bersama. Laga bergengsi Champions dan sejumlah laga kompetisi bola yang lain tergerus dan leyap, ditengarai menginfeksi 40 ribu penonton. Banyak pesepak bola dan pelatih klub terkena virus tersebut.
Memoar di Rumah Tuhan
Bagi mereka yang getir imannya, tidak bisa menjalankan ibadah dibawah atap rumah Tuhan secara bersama adalah penyiksaan batin. Namun apa mau hendak di kata, kegiatan bernuasa kerumunan atas nama agama terbukti jadi wadah penyebaran corona paling dahsyat.
Kejadian itu menimpa Negara Korea Selatan, lantaran terpapar Virus Covid 19 kemudian dia mendatangi gereja tampa diketahui para jamaat, akhirnya wabah menyebar tak bisa dibendung. Umat kristiani sedunia lantas membuat keputusan merasakan perayaan Paskah online pertama kali, sedangkan muslim didepan hari akan menyambut Ramadan dan Lebaran.
Tak mengapa belum Tarawih bersama di masjid. Bukankah kemanusiaan mendahului agama? nyawa manusia penting didahulukan sebelum ritual ibadah. Itulah agaknya yang diajarkan dalam agama-agama samawi.
Lagian, bulan Ramadhan adalah waktu terbaik melangitkan jiwa manusia, lantaran nilai yang diberikan Tuhan melebihi hari-hari lainnya. Dirumah saja tidak berarti mengurangi nilai, ia bahkan bisa melesat lebih jauh. Sebagaimana Nabi bertafakur di gua hira. Inna ma'al usri yusran, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Lalu Tuhan mengulangi lagi ucapannya dua kali. (RS)
free samples of priligy The cause and effect soups to lower blood pressure of this world are originally unclear and unclear, Rogge was thinking wildly, his heart suddenly moved, and he turned back suddenly, but saw a skeleton standing behind him
Share This Article