pasang iklan

Berdamai atau Perang dengan Covid-19?

JAGAPAPUA.COM - Presiden RI membuat pernyataan baru yang mengajak masyarakat Indonesia untuk berdamai dengan Covid-19. Yusuf Kala mantan Wakil Presiden RI menanggapi dengan sedikit heran, karena Jokowi minta berdamai dengan Covid-19.

Jusuf Kala menanggapi, “Masa kita berdamai dengan Covid-19? Yang ada mesti perang!

Sesungguhnya apa yang dimaksudkan dengan berdamai dengan Covid-19 yang diungkapkan oleh Presiden? Ternyata pernyataan perang tidak punya dampak efektif terhadap Covid-19, karena masyarakat telah memihak kepada Covid-19 untuk memerangi manusia.

Buktinya setiap hari ada seruan berperang, ternyata masyarakat memilih berdamai dengan cara tetap keluar rumah, tidak menjaga jarak, tidak menyuci tangan. Pusat perbelanjaan tetap ramai, tempat-tempat umum juga tetap ramai dikunjungi, tidak pakai masker. Semua perilaku ini adalah indikasi berdamai dengan Covid-19. Dengan kata lain kita biarkan saja Covid-19 berkembang sampai ke titik klimaksnya dan akan melemah sendiri. Masalahnya berapa banyak yg akan terkapar dan mati selama masa berdamai?

Berdamai dengan Covid-19 adalah sebuah strategi politik dengan dua maksud, yaitu: (1) memberikan kesempatan untuk kesadaran masyarakat tumbuh secara alami dalam diri masyarakat Indonesia dengan belajar dari kenyataan yang terjadi, dan (2) dari pada bicara banyak, lebih baik memberikan kesempatan kepada para ahli kesehatan, biologi dan kimia untuk menciptakan vaksin yang dapat digunakan untuk perang pada tahap kedua.

Jokowi tidak bermaksud membiarkan Covid-19 berkembang, tapi harus dihadapi dengan bijak. Karena ternyata perang yang dilakukan selama ini, tidak hanya terhadap Covid-19, tetapi juga perang melawan kedegilan atau kebebalan masyarakat. Dari pada mempunyai dua musuh, sebaiknya perang di bawah tanah melawan Covid-19, sehingga terkesan berdamai dengan Covid-19.

Kata orang Biak, “kalau mau bunuh suanggi, panggil untuk kasih makan kenyang baru dibunuh.” Makna filosofisnya adalah memperdaya suanggi dengan kebaikan supaya lalai, sehingga leluasa membunuh suangginya.

(Ditulis oleh Drs. Festus Simbiak, Mantan Kepala LLDIKTI Papua dan Papua Barat)

Baca juga:https://jagapapua.com/article/detail/2685/menkeu-fokus-pemerintah-pada-kesehatan-bansos-dan-dunia-usaha

Share This Article

Related Articles

Comments (2)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery