JAGAPAPUA.COM - Pengelana laut, penakhluk gelombang itulah simbol jati diri suku Biak. Mereka sudah lama menerjang lautan hingga menembus kebelahan dunia. Banyak lembaran sejarah menuliskan tentang tindak-tanduk mereka diatas samudra.
Jejak perjalanan Suku Biak seperti diuraikan didalam Buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX karangan sejarawan A.B. Lapian Menuliskan, jika Suku Biak sudah berkelana hampir di sebagian besar wilayah Indonesia. Cikal bakal mereka melintasi laut konon katanya, pada tahun 1400-1800 Semananjung Malaka. Mereka menyambangi Maluku, Sulawesi dan Jawa, menjejal luasnya lautan.
Didalam buku tersebut, Lapian kemudian menguraikan, pelayaran suku Biak digerakkan oleh sejumlah faktor, yaitu pergulatan dalam persaingan (korfandi), ditambah lingkungan geografis yang kerap bertandus, selain bertandus, perang antara suku juga telah mendorong suku Biak keluar menerjang gelombang.
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari, Dr. Filep Wamafma, juga menguraikan bahwa disekitar ratusan tahun silam, suku Biak dirundung musim kemarau berkepanjangan. Panjangnya musim kamarau telah mempersulit suku Biak meraih sejumlah bahan makanan. Demi menggelar kehidupan agar tetap berlangsung, Suku Biak harus berlayar keluar, mengkodamkan dirinya menjadi manusia laut seutuhnya kala itu, urai akademisi kelahiran Biak itu.
Perkataan Wamafma juga senada dengan Sejarawan, sekaligus Dosen Universitas Cendrawasih, Albert Rumbekwan seperti yang ditulis oleh Historia. Dia menyebutkan, bekas tindak-tanduk suku Biak dapat kita temui hari ini dari bentuk penamaan nama yang bertebaran di daerah Papua, seperti istilah penggunaan kata Manokwari yang teradopsi dar kata mnuk war begitupala Sorong.” Tukasnya.
Seturut dengan pelayaran itu, akhirnya, Suku Biak menjalin serangkaian hubungan dengan dengan orang-orang di luar Papua seperti para pelaut Ternate, Tidore, Halmahera-Flores-Gebe, Sulawesi, Buton, pelaut Tiongkok sampai pelaut Eropa. (RS)
Share This Article