pasang iklan

Murahnya Nyawa di Tanah Papua

Orang-orang Asli Papua tidak punya harapan masa depan dengan Bangsa Indonesia,

untuk hidup bebas dan berkarya di atas tanahnya sendiri.

Tuhan Yesus Engkau itu baik, dan sangat baik bagi kami orang kulit hitam dan rambut keriting rumpun Melanesia, yang mana Engkau telah menempatkan kami di Tanah Papua untuk berkarya dengan bebas tanpa tekanan.

Pasti Engkau punya maksud yang sangat mulia dan terindah bagi kami sebagai orang kulit hitam dan rambut keriting yang ada di kolong bumi ini, termasuk kami Rumpun Melanesia (Papua).

Tetapi Tuhan, saya harus jujur sampaikan bahwa kami orang-orang Asli Papua tidak punya harapan masa depan yang lebih baik, untuk menjalani kehidupan dengan rasa bebas di atas tanah kami sendiri. Kebebasan kami sedang diperkosa, dan Orang Asli Papua bersandar dan hidup dalam rasa ketakutan seperti singa yang sedang mengaum mangsanya, kita tidak bisa belajar dengan rasa bebas, karena kebebasan itu diambil alih oleh orang lain.

Bukan hanya dari rasa bebas, Orang Asli Papua selalu hidup dalam rasa takut dan trauma yang cukup panjang karena selalu dituduh sebagai kelompok OPM, separatis, pengacau, KKB, Monyet dan tikus.

Dengan tuduhan sebagai OPM, Separatis, pengacau, KKB, Monyet dan tikus-tikus hutan, dengan tudingan ini Orang Asli Papua selalu hidup diujung moncong senjata. Masyarakat sipil yang tidak punya senjata dan tidak terbukti saja, ditembak dengan cara yang sangat keji dan tidak manusiawi. Sehingga mereka tidak punya rasa kebebasan untuk hidup lepas, selalu diakhiri dengan kematian.

Bukan hanya hidup diujung moncong senjata dan berujung dengan kematian, tetapi juga masyarakat asli Papua selalu mengalami penyiksaan yang sangat tidak manusiawi, yang dilakukan oleh aparat TNI dan Polri hingga sampai berdampak penderitaan yang panjang lalu mengalami kematian.

Contoh yang paling kongrit seperti kematian Edison Hesegem beberapa tahun yang lalu di Rumah sakit Wamena. Kabupaten Jayawijaya, dan penyiksaan yang di alami Yawan Wayeni di Serui. Penyiksaan juga yang alami oleh dua Warga masyarakat sipil dari Nduga di Kenyam pada tanggal 26 Februri 2020. Bukan hanya penyiksaan saja, masyarakat Asli Papua juga yang ditakut-takuti dengan mengunakan ular.

Pada bulan september 2019, 5 warga masyarakat sipil di tembak oleh anggota TNI di Distrik Iniye Kabupaten Nduga Papua, lalu dimakamkan di hutan belantara. Penghilangan upaya paksa terhadap Pdt. Geyimin Nirigi di Mapnduma.

Dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi seperti yang saya jelaskan di atas, orang Asli Papua akan hidup dengan penuh trauma dan tidak ada rasa bebas di atas tanahnya sendiri.

Dengan tuduhan OPM, Sparatis, Pengacau, KKB, Monyet dan Tikus-tikus hutan, oleh sebab itu Masa depan Orang Asli Papua 20 sampai 30 tahun kedepan, sebagai Ras melanesia tidak ada harapan dan akan mengalami kepunahan.

Pembela HAM Orang Asli Papua juga yang bekerja dalam penegakan HAM, kerap kali mengalami ancaman dan dituduh sebagai separatis. Ada pihak yang memainkan peran ganda, menuduh bahwa Theo Hesegem menutupi kebiadaban OPM.

Yang ingin membela hak hidup manusia saja dituding seperti itu, apa lagi masyarakat sipil. Saya sangat heran juga ditengah-tengah situasi yang sangat panik dan semua orang diseluruh dunia sedang mengalami trauma dengan Virus Corona, sedangkan seluruh Dunia sedang mengalami Krisis kemanusiaan yang luar biasa dan sedang berduka.

Lalu anggota TNI dengan gampang begitu saja menembak warga masyarakat sipil Orang Asli Papua di Timika. Tindakan ini sangat menyakiti dan menyesatkan kita semua. Kemungkinan besar bahwa orang asli Papua akan mengalami kematian dari Virus Corona dan akan mengalami juga kematian dengan unsur sengaja di tembak oleh anggota TNI dan Polri, agar supaya orang asli Papua tidak berkuasa di atas tanah yang Tuhan berikan ini.

Saya mau sampaikan bahwa membunuh dan menghilangkan nyawa manusia bukan kewenangan kita tetapi kewenangannya ada di Tangan Tuhan, Allah.

Oleh sebab itu pesan saya, kalau mau membunuh orang Asli Papua tidak perlu membunuh satu persatu, tetapi menghabiskan sekali saja, dari pada menyakiti hati keluarga korban atau orang asli Papua.

Karena sering juga terjadi ketida adilan bagi orang asli Papua di atas Tanah ini dalam proses penegakkan hukum dan HAM. Sampai hari ini saya sering berpikir bahwa Orang Asli Papua juga adalah sebagai lahan bisnis, bagi orang-orang yang punya kepentingan di Tanah ini.

(Ditulis oleh Theo Hesegem, Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua) 

Baca juga: https://jagapapua.com/article/detail/2363/2-warga-sipil-tewas-ditembak-pangdam-janji-akan-investigasi

Share This Article

Related Articles

Comments (0)

Leave a Comment

Liputan Video

Video Lainnya

Daftar

Gallery